Rabu, 28 Desember 2011

PENGUJIAN STRUKTUR BETON DENGAN METODE HAMMER TEST DAN METODE UJI PEMBEBANAN (LOAD TEST) Ir. MAWARDI LUBIS

© 2003 Digitized by USU digital library 1

Jurusan Teknik Sipil

Fakultas Teknik

Universitas Sumatera Utara

BAB-I

PENDAHULUAN

1.1. UMUM

Dalam pelaksanaan suatu konstruksi bangunan sering terdapat kegagalankegagalan akibat kerusakan-kerusakan yang terjadi pada struktur atau bahagianbahagian struktur pada waktu tahap pelaksanaannya maupun setelah selesai

dikerjakan. Kejadian ini antara lain disebabkan oleh adanya faktor-faktor yang

sebelumnya tidak diperhitungkan misalnya kesalahan dalam perencanaan dan

pelaksanaan serta adanya pelampauan beban akibat perubahan fungsi dari

bangunan.

Dalam perencanaan suatu struktur bangunan biasanya didahului dengan

membuat beberapa asumsi-asumsi misalnya besaran gaya-gaya yang bekerja

dan mutu bahan yang akan digunakan yang pada akhimya syclus perencanaan

harus diuji kebenarannya. Pembuktian asumsi-asumsi yang dibuat mebutuhkan

pengujian-pengujian dan percobaan-percobaan yang dapat berupa Quality

Control dan Quality Assurance. Walaupun telah didahului oleh Quality Control dan

quality Assurance yang terencana sering terjadi bahwa hasil akhir mutu bahan

yang dilaksanakan masih tetap berada dibawah kwalitas yang diinginkan. Hal ini

dapat terjadi karena kesalahan dalam pelaksanaan/perencanaan, penurunan

kinerja struktur yang sudah berdiri (struktur eksisting) dan apa yang disebut

dengan pengaruh skala (scale etfecs) .

Kwalitas produk dalam skala besar, misalnya untuk beton yang akan

digunakan dalam pembuatan suatu bangunan yang diproduksi secara besar

besaran dicoba diramalkan berdasarkan kwalitas bahwa tes yang diacu dalam

skala kecil dilaboratorium (test kubus) sewaktu melaksanakan perencanaan

campuran teton (mixed design).

Penyimpangan kwalitas akhir misalnya pada struktur yang menggunakan

beton sebagai materialnya dapat menyebabkan terjadinya retakan-retakan pada

sebahagian atau keseluruhan dari struktur bangunan. Jika penyimpangan

kwalitas akhir ini dijumpai pada pelaksanaan suatu bangunan ada dua alternatif

yang dapat diambil dalam penanggulangannya.

Pertama mengganti sebahagian atau keseluruhan struktur yang tidak

memenuhi persyaratan dan yang kedua mengadakan penelitian secara

menyeluruh tentang kekuatan dan kekakuan konstruksi untuk kemudian memberi

rekomendasi terhadap penggunaan tats ruang perkuatan konstruksi tersebut.

Untuk mendapatkan informasi tentang kekhawatiran mengenai tingkat

keamanan struktur dari suatu komponen bangunan ataupun bangunan secara

keseluruhan akibat adanya faktor-faktor yang tidak diperhitungkan sebelumnya

diperlukan pengujian-pengujian.

Ada beberapa bentuk metode pengujian yang dapat digunakan

diantaranya pengujian-pengujian setempat yang bersifat tidak merusak seperti

pengujian ultrasonik dan hammer serta bersifat setengah merusak ataupun

merusak secara keseluruhan komponen-komponen bangunan yang diuji berupa

pengujian pembebanan (Load Test). Dasar-dasar dan tahapan-tahapan yang

dilakukan dalam pengujian struktur eksisting yang umum ditarapkan dapat

dikemukakan secara ringkas pada uraian berikut ini. © 2003 Digitized by USU digital library 2

1.2. DASAR.DASAR PENGUJIAN STRUKTUR

1. Kesalahan perencanaan/pelaksanaan.

a. Hasil pengamatan lapangan dimana terlihat adanya retak-retak atau

lendutan yang berlebihan pada bagian-bagian struktur.

b. Sifat material yang diuji selama pelaksanaan pembangunan struktur, yang

menunjukkan hasil-hasil yang tidak memenuhi syarat baik dari segi

kekuatan maupun durabilitas (sifat kekedapan terhadap air yang

disyaratkan untuk bangunan seperti kolam renang).

c. Hasil Perhitungan (dengan memakai kekuatan material yang aktual) yang

menunjukkan adanya penurunan kapasitas kekuatan struktur atau

komponen-komponen struktur

2. Penurunan kinerja struktur eksisting yang diakibatkan oleh:

a. Adanya pelapukan material pada struktur karena usianya yang sudah tua,

atau karena serangan zat-zat kimiawi tertentu yang merusak (seperti jenisjenis senyawa asam).

b. Adanya kerusakan pada struktur atau bagian-bagian struktur karena bencana

kebakaran atau gempa atau karena struktur mengalami pembebanan

tambahan akibat adanya ledakan disekitar struktur ataupun beban lainnya

yang tidak direncanakan.

c. Rencana pembebanan tambahan pada struktur karena adanya :

- Perubahan fungsi / penggunaan struktur.

- Penambahan tingkat (pengembangan struktur).

d. Syarat untuk proses jual beli atau asuransi suatu struktur bangunan. Untuk

hal ini biasanya cukup dilakukan penyelidikan secara visual kecuali jika ada

tandañtanda yang mencurigakan pada struktur.

1.3. TAHAPAN DALAM PENGUJIAN STRUKTUR.

1. Tahapan Perencanaan

Tahapan ini mencakup pendefinisian masalah, pemilihan jenis test yang

akan dilakukan yang tentunya sesuai dengan masalah yang dihadapi, penentuan

banyaknya pengujian yang akan dilakukan, dalam pemilihan lokasi pengujian

pada struktur/komponen struktur yang tentunya diharapkan dapat mewakili

kondisi struktur yang sebenamya. Tahapan-tahapan yang umumnya lakukan

pada tahap perencanaan ini dapat diuraikan sebagai berikut ini:

a. Penyelidikan visual.

Pengamatan Visual diperlukan sebagai tahapan awal untuk mendefinisikan

permasalahan yang ada dilapangan. Dari pengamatan visual ini bisa

didapatkan imformasi mengenai tingkat layanan (service ability) dari

komponen struktur (seperti lendutan), baik tidaknya pengerjaan pada saat

pembangunan struktur/ komponen struktur (misalnya ada bagian keropos dan

"honeycombing" pada beton) material (misal pelapukan beton) maupun

tingkat struktural (seperti retak-retak akibat lenturan pada struktur beton).

Untuk tahapan ini diperlukan adanya tenaga ahli yang terlatih yang dapat

mendeteksi hal-hal yang tidak normal yang terjadi pada struktur dan dapat

membedakan jenis-jenis kerusakan yang terjadi dan penyebabnya.

Sebagai contoh tenaga ahli tersebut harus mampu membedakan jenis-jenis

retak yang mungkin terjadi pada struktur beton. Sementara itu jenis

pengujian lain yang tersedia seperti pengambilan sample core dari struktur

baton yang kemudian dilanjutkan dengan pengujian tekan dapat ssss

ililloririasi yang lebih akurat mengenai kuat tekan beton. Jadi, tingkat

keandalan hasil pengujian core tersebut tergolong tinggi. Namun, cara ini

membutuhkan biaya yang sangat tinggi yang memerlukan waktu pengerjaan

yang lebih lama. Selain itu, cara ini juga menimbulkan kerusakan pada

struktur. Jadi bisa dilihat disini bahwa sebagai langkah awal dalam memilih

jenis pengujian yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada perlu

disusun terlebih dahulu tingkat prioritas dari hal-hal yang akan dijadikan © 2003 Digitized by USU digital library 3

sebagai dasar pemilihan. Namun perlu diperhatikan, bahwa biasanya tingkat

akurasi hasil pengukuran merupakan kriteria yang paling penting dalam

pemilihan jenis pengujian.

Biasanya untuk mengatasi kelemahan yang ada dari pengujian-pengujian

yang disebabkan pada ilustrasi diatas, dapat dilakukan penggabungan

beberapa jenis pengujian. Sebagai contoh, karena dapat memberikan hasil

yang akurat, pengujian core dapat digunakan untuk mengkalibrasi hasil

pengujian ultrasonik dan hammer. Karena sifatnya yang hanya sebagai

mengkalibrasi, jumlah core yang diperlukan dapat diperkecil, sehingga

kerusakan yang timbul pun dapat diminimkan.

Untuk dapat membedakan jenis-jenis retak tersebut beserta penyebabnya,

perlu dilakukan penyelidikan yang mendalam mengenai pola retak yang

terjadi. Dari penyelidikan tersebut bisa didapat dugaan-dugaan awal

mengenai penyebab retak.

b. Pemilihan Jenis Pengujian.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis pengujian struktur

terdiri atas :

- Tingkat kerusakan struktur yang diizinkan terjadi.

- Waktu penge~aan

- Tingkat keandalan hasil pengujian

- Jenis permasalahan yang dihadapi.

Kemungkinan besar jenis pengujian yang tersedia tidak dapat memenuhi

semua hal diatas secara optimal, sehingga diperlukan suatu kompromi.

Sebagai ilustrasi disampaikan disini bahwa metoda-metoda pengujian beton

yang sifatnya tidak merusak (seperti ultrasonik dan hammer test yang dapat

digunakan untuk mengetahui kuat tekan beton pad a struktur) biasanya

merupakan bentuk pengujian yang sangat sederhana, cepat dan murah.

Namun, tingkat kesulitan dalam mengkalibrasi hasil pengujian untuk proses

interpretasi parameter kuat tekan tergolong tinggi. Disamping itu, jika

kalibrasi ini tidak dilakukan secara baik dan benar, tingkat keandalan hasil

pengujian dengan menggunakan alaI-alaI tersebut akan menjadi rendah.

c. Jumlah dan Lokasi Pengujian.

Penentuan jumlah mengujian yang dibutuhkan ditentukan oleh :

- Tingkat akurasi yang ditentukan (hubungannya dengan statistik).

- Tingkat kesulitan pengujian/pengambilan sample

- Biaya yang dibutuhkan

- Tingkat kerusakan.

Sebagai contoh, untuk pengujian hammer, untuk mengetahui kuat tekan

beton dengan tingkat akurasi yang tinggi, diperlukan pengujian minimal 10

titik didekitar lokasi yang diuji pada struktur atau komponen struktur beton.

Untuk jenis-jenis pengujian yang tidak merusak, karena kecepatan

pelaksanaannya, biasanya dapat dilakukan dalam jumlah yang besar yang

lokasinya dapat disebaran sehingga mencakupi semua daerah dari komponen

struktur yang akan diuji.

2. Tahapan Pelaksanaan.

Pada tahap pelaksanaan pertu diperhatikan tingkat kesulitan dalam

mencapai lokasi-lokasi yang telah ditentukan sebagai lokasi pengujian. Jika

diperlukan, sistem perancah dapat digunakan, namun sistemnya harus

direncanakan dan dipersiapkan dengan baik. Penanganan peralatan pengujian

harus dilakukan dengan baik selama pelaksanaan.

Demikian juga dengan keselamatan tenaga pelaksana harus diperhatikan (tenaga

pekerja perlu dilengkapi dengan peralatan keselamatan seperti "hard harî tali

pengikat dan lain-lain). © 2003 Digitized by USU digital library 4

Perlu juga diperhatikan pada saat pelaksanaan, pengaruh gangguan yang

mungkin timbul dari pengujian tersebut terhadap gedung-gedung/strukturstruktur disekitas lokasi struktur yang akan diuji.

3. Tahapan Interpretasi.

Tahap interpretasi dapat dibagi menjadi tiga tahapan yang berbeda :

a. Peninjauan mengenai kekuatan bahan.

b. Kalibrasi

c. Analisa / Perhitungan.

BAB-II

METODE HAMMER TEST

UMUM

Hammer test yaitu suatu alat pemeriksaan mutu beton tanpa merusak

beton. Disamping itu dengan menggunakan metode ini akan diperoleh cukup

banyak data dalam waktu yang relatif singkat dengan biaya yang murah.

Metode pengujian ini dilakukan dengan memberikan beban intact

(tumbukan) pada permukaan beton dengan menggunakan suatu massa yang

diaktifkan dengan menggunakan energi yang besarnya tertentu. Jarak pantulan

yang timbul dari massa tersebut pada saat terjadi tumbukan dengan permukaan

beton benda uji dapat memberikan indikasi kekerasan juga setelah dikalibrasi,

dapat memberikan pengujian ini adalah jenis "Hammer". Alat ini sangat berguna

untuk mengetahui keseragaman material beton pada struktur. Karena

kesederhanaannya, pengujian dengan menggunakan alat ini sangat cepat,

sehingga dapat mencakup area pengujian yang luas dalam waktu yang singkat.

Alat ini sangat peka terhadap variasi yang ada pada permukaan beton, misalnya

keberadaan partikel batu pada bagian-bagian tertentu dekat permukaan.

Oleh karena itu, diperlukan pengambilan beberapa kali pengukuran

disekitar setiap lokasi pengukuran, yang hasilnya kemudian dirata-ratakan

British Standards (BS) mengisyaratkan pengambilan antara 9 sampai 25 kali

pengukuran untuk setiap daerah pengujian seluas maksimum 300 mm2.

Secara umum alat ini bisa digunakan untuk:

- Memeriksa keseragaman kwalitas beton pada struktur.

- Mendapatkan perkiraan kuat tekan beton.

2. SPESIFIKASI

Spesifikasi mengenai penggunaan alat ini bisa dilihat pada BS4408 pt. 4 atau

ASTM G80S-89.

a. Kelebihan dan kekurangan "Hammer test".

Kelebihan :

- Murah

- Pengukuran bisa dilakukan dengan cepat

- Praktis (mudah digunakan).

- Tidak merusak

Kekurangan :

- Hasil pengujian dipengaruhi oleh kerataan permukaan, kelembaban beton, sifatsifat dan jenis agregat kasar, derajad karbonisasi dan umur beton. Oleh karena

itu perlu diingat bahwa beton yang akan diuji haruslah dari jenis dan kondisi

yang sama.

- Sulit mengkalibrasi hasil pengujian.

- Tingkat keandalannya rendah.

- Hanya memberikan imformasi mengenai karakteristik beton pada permukaan © 2003 Digitized by USU digital library 5

b. Kalibrasi.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, banyak sekali variabel yang

berpengaruh terhadap hasil pengukuran dengan menggunakan peralatan

hammer. Oleh karena itu sangat sulit untuk mendapatkan diagram kalibrasi yang

bersifat umum yang dapat menghubungkan parameter tegangan beton sebagai

fungsi dari pada jumlah skala pemantulan hammer dan dapat diaplikasikan untuk

sembarang beton.

Jadi dengan kata lain diagram kalibrasi sebaiknya berbeda untuk setiap

jenis campuran beton yang berbeda. Oleh karena itu setiap jenis beton yang

berbeda, perlu diturunkan diagram kalibrasi tersebut perlu dilakukan pengujian

tekan sample hasil coring untuk setiap jenis beton yang berbeda dari struktur

yang sedang ditinjau. Hasil uji coring tersebut kemudian dijadikan sebagai

konstanta untuk mengkalibrasikan bacaan yang didapat dari peralatan hammer

tersebut.

Perlu diberi catatan disini bahwa penggunaan diagram kalibrasi yang

dibuat oleh produsen alat uji hammer sebagainya dihindarkan, karena diagram

kalibrasi tersebut diturunkan atas dasar pengujian beton dengan jenis dan ukuran

agregat tertentu, bentuk benda uji yang tertentu dan kondisii test yang tertentu.

II. 3. PERSIAPAN DAN TATA CARA PENGUJIAN.

II. 3. 1. Persiapan.

a. Menyusun rencana jadwal pengujian, mempersiapkan peralatan-peralatan

serta perlengkapan-perlengkapan yang diperlukan.

b. Mencari data dan informasi termasuk diantaranya data tentang letak detail

konstruksi, tata ruang dan mutu bahan konstruksi selama pelaksanaan

bangunan berlangsung.

c. Menentukan titik test.

d. Titik test untuk kolom diambil sebanyak 5 (lima) titik, masing-masing titik test

terdiri dari 8 (delapan) titik tembak, untuk balok diambil sebanyak 3 (tiga)

titik test masing-masing titik terdiri dari 5 (lima) titik tembak sedang pelat

lantai diambil sebanyak 5 (lima) titik test masing-masing terdiri dari 5 (lima)

titik tembak.

II. 3. 2. Tata Cara Pengujian.

a. Sentuhan ujung plunger yang terdapat pada ujung alat hammer test pada

titik-titik yang akan ditembak dengan memegang hammer sedemikian rupa

dengan arah tegak lurus atau miring bidang permukaan beton yang akan

ditest.

b. Plunger ditekan secara periahan-lahan pada titik tembak dengan tetap

menjaga kestabilan arah dari alat hammer. Pada saat ujung plunger akan

lenyap masuk kesarangnya akan terjadi tembakan oleh plunger terhadap

beton, dan tekan tombol yang terdapat dekat pangkal hammer.

c. Lakukan pengetesan terhadap masing-masing titik tembak yang telah

ditetapkan semula dengan cara yang sama.

d. Tarik garis vertikal dari nilai pantul yang dibaca pada grafik 1 yaitu hubungan

antara nilai pantul dengan kekuatan tekan beton yang terdapat pada alat

hammer sehingga memotong kurva yang sesuai dengan sudut tembak

hammer.

e. Besar kekuatan tekan beton yang ditest dapat dibaca pada sumbu vertikal

yaitu hasil perpotongan garis horizontal dengan sumbu vertikal.

Oleh karena itu mutu beton yang dinyatakan dengan kekuatan karakteristik α bk

didasarkan atas kekuatan tekan beton yang diperoleh pada saat pengetesan

dilaksanakan perlu dikonversi menjadi kekuatan tekan beton umur 28 hari. © 2003 Digitized by USU digital library 6

Grafik I: Hubungan antara Nilai Pantul dengan Kekuatan tekan beton

BAB -III

METODE UJI PEMBEBANAN (LOAD TEST)

III.1. UMUM.

Uji pembebanan (load test) adalah merupakan suatu metode pengujian

yang bersifat setengah merusak atau merusak secara keseluruhan komponenkomponen bangunan yang diuji. Pengujian yang dimaksud dapat dilakukan

dengan beberapa metode salah satu diantaranya adalah metode uji beban (Load

Test).

Tujuan load test pada dasarnya adalah untuk membuktikan bahwa tingkat

keamanan suatu struktur atau bagian struktur sudah memenuhi persyaratan

peraturan bangunan yang ada, yang tujuannya untuk menjamin keselamatan

umum. Oleh karena itu biasanya load test hanya dipusatkan pada bagian-bagian

struktur yang dicurigai tidak memenuhi persyaratan tingkat keamanan

berdasarkan data-data hasil pengujian material dan hasil pengamatan.

III. 2. PEMAKAIAN UJI PEMBEBANAN.

Uji pembebanan biasanya perlu dilakukan untuk kondisi-kondisi seperti

berikut ini:

a. Perhitungan analistis tidak memungkinkan untuk dilakukan karena

keterbatasan imformasi mengenai detail dan geometri struktur.

b. Kinerja struktur yang sudah menurun karena adanya penurunan kwalitas

bahan, akibat serangan zat kimia, ataupun karena adanya kerusakan flsik

yang dialami bagian-bagian struktur,akibat kebakaran, gempa, pembebanan

yang berlebihan dan lain-lain.

c. Tingkat keamanan struktur yang rendah akibat jeleknya kwalitas pelaksanaan

ataupun akibat adanya kesalahan pada perencanaan yang sebelumnya tidak

terdeteksi.

d. Struktur direncanakan dengan metode-metode yang non-stardard, sehingga

menimbulkan kekhawatiran mengenai tingkat keamanan struktur tersebut. © 2003 Digitized by USU digital library 7

e. Perubahan fungsi struktur, sehingga menimbulkan pembebanan tambahan

yang belum diperhitungkan dalam perencanaan.

f. Diperlukannya pembuktian mengenai kinenja suatu struktur yang baru saja di

renovasi.

III. 3. JENIS-JENIS LOAD TEST.

Uji pembebanan dikategorikan dalam dua kelompok, yaitu :

a. Pengujian ditempat (in.situ) yang biasanya bersifat non-destructive.

b. Pengujian bagian-bagian struktur yang diambil dari struktur utamanya.

Pengujian biasanya dilakukan dilaboratorium dan sifat merusak.

Pemilihan jenis uji pembebanan ini tergantung pad a situasi dan kondisi

tetapi biasanya cara kedua dipilih jika cara pertama tidak peraktis (tidak

mungkin) untuk dilaksanakan. Selain itu pemilihan jenis pengujian bergantung

pada tujuan diadakannya load test. Kalau tujuannya hanya ingin mengetahui

tingkat layanan struktur, maka pilihan pertama tentunya yang paling baik. Tetapi

ingin mengetahu kekuatan batas dari suatu bagian struktur, yang nantinya akan

digunakan sebagai kalibrasi untuk bagian-bagian struktur lainnya yang

mempunyai kondisi yang sama, maka cara kedualah yang pilih.

III. 3. 1. Pengujian Pembebanan di tempat (In-Situ Load test).

Tujuan utama dari pembebanan ini adalah untuk memperhatikan apakah

prilaku suatu struktur pada saat diberi beban kerja (working load) memenuhi

persyaratan banguan yang ada yang pada dasarnya dibuat agar keamanan

masyarakat umum terjamin. Prilaku struktur tersebut dinilai berdasarkan

pengukuran lendutan yang terjadi. Selain itu penampakan struktur pada saat

retak-retak yang terjadi selama pengujian masih dalam batas-batas yang wajar.

Beberapa hal yang patut menjadi perhatian dalam pelaksanaan loading test akan

diberikan dalam uraian berikut ini.

a. Persiapan dan Tata Cara Pengujian.

ACI-318'89 mengisyaratkan bahwa uji pembebanan hanya bisa dilakukan jika

struktur beton berumur lebih dari 56 hari. Pemilihan bagian struktur yang

akan diuji dilakukan dengan mempertimbangkan :

a. Permasalahan yang ada

b. Tingkat keutamaan bagian struktur yang akan diuji.

c. Kemudahan pelaksanaan.

Bagian struktur yang akan memikul bagian struktur yang akan diuji dan

beban ujinya juga harus dipertimbangkan/dilihat apakah kondisinya baik dan

kuat Selain itu "scaffolding" juga harus dipersiapkan untuk mengantisipasi

beban-beban yang timbul jika terjadi keruntuhan bagian struktur yang diuji.

Beban pengujian harus direncanakan sedemikian rupa sehingga bagian

struktur yang dimaksud benar-benar mendapatkan beban yang sesuai dengan

yang direncanakan. Hal ini kadang kala sulit direncanakan, terutama untuk

pengujian struktur lantai. Hal ini dikarenakan adanya keterkaitan antara

bagian struktur yang diuji dengan bagian struktur lain yang ada disekitarnya.

Sehingga Timbul apa yang disebut pengaruh pembagian pembebanan ("Load

sharing effect"). Pengaruh ini juga bisa ditimbulkan oleh elemen-elemen nonstruktual yang menempel pada lagian struktur yang akan diuji, sebagai

contoh "ceiling board", Elemen non struktural ini dapat berfungsi

mendistribusikan beban pada komponen-komponen struktur dibawahnya yang

sebenarnya tidak saling berhubungan. Untuk menghindari terjadinya distribusi

beban yang akan diinginkan maka bagian struktur yang akan diuji sebaiknya

diisolasikan dari bagian struktur yang ada disekitarnya. © 2003 Digitized by USU digital library 8

ACI-318- ' 89 mengisyaratkan bahwa besamya beban yang harus

diaplikasikan selama ìload test" (termasuk beban mati yang sudah ada pada

struktur) adalah :

Beban total = 0,85 (1,4D + 1,7 L)

Dimana : D = beban mati

L = benda hidup (termasuk faktor reduksinya)

Beban mati harus diaplikasikan 48 jam sebelum "load test" dimulai. Sebelum

beban diterapkan, terlebih dahulu dilakukan pembacaan lendutan awal yang

nantinya dijadikan sebagai acuan untuk pembacaan lendutan setelah

penerapan beban. Pembebanan harus dilakukan secara bertahap dan

perlahan-lahan, sehingga tidak menimbulkan beban kejutan pede struktur.

Setelah beban-beban yang direncanakan berada pada struktur yang diuji

selama 24 jam, pembacaan lendutan bisa dilakukan. Setelah pembacaan

beban bisa dilepaskan dari struktur. Dua puluh empat jam setelah itu

pembacaan lendutan dilakukan kembali.

Kriteria umum yang harus dipenuhi dari hasil load test ini adalah struktur

tidak boleh memperlihatkan tanda-tanda keruntuhan seperti terbentuknya

retak-retak yang berlebihan atau menjadi lendutan yang melebihi persyaratan

keamanan yang telah ditetapkan dalam peraturan-peraturan bangunan.

Sebagai contoh, ACI mensyaratkan bahwa untuk balok/lantai diatas tumpuan:

L

2



δ maks <

20000 h

dimana, δ maks = lendutan maksimum yang terjadi, inch

L = Panjang bentang, inch

h = Tinggi penampang

Persyaratan lendutan diatas bisa dilanggar tapi dengan syarat lendutan yang

terjadi setelah beban-beban bekerja yang dilepaskan haruslah lebih kecil dari

25 % δ maks.

Jika struktur gagal dalam "load test", maka :

Struktur tidak boleh digunakan sama sekali jika sudah terjadi tanda-tanda

kerusakan struktural yang fatal).

Struktur masih bisa digunakan, tapi dengan pembatasan beban-beban yang

bekerja sehingga sesuai dengan kekuatan struktur yang sebenarnya. Jadi

disini fungsi struktur dikurangi

b. Teknik Pembebanan.

Pembebanan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga laju distribusi

pembebanan dapat dikontrol (gambar 1). Beban yang bisa digunakan

diantaranya air, bata/batako, kantong semen/pasir, pemberat baja dan lainlain. Pemilihan beban yang akan digunakan tergantung dengan distribusi

pembebanan yang diinginkan, besarnya total beban yang dibutuhkan, dan

kemudahan pemindahannya. © 2003 Digitized by USU digital library 9

c. Pengukuran.

Parameter yang biasanya diukur dalam "load test" adalah lendutan, lebar

retak. dan regangan. Gambar 2 memperlihatkan aplikasi beberapa jenis alat

ukur dalam "load test". Lebar retak yang terjadi biasanya diukur dengan

mikroskop tangan yang dilengkapi dengan lampu dan mempunyai lensa yang

diberi garis-garis berskala yang ketebalannya berbeda-beda (gambar 3). Cara

pengukuran adalah dengan membandingkan lebar retak yang terjadi, lewat

peneropongan dengan mikroskop dengan lebar garis-garis berskala tersebut.

Pola retak-retak yang terjadi biasanya ditandai dengan menggambarkan

garis-garis yang mengikuti pola retak yang ada dengan menggunakan spidol

berwarna (diujung garis-garis tersebut dituliskan imformasi mengenai tingkat

pembebanan dan lebar retak yang sudah terjadi).

(a)



(b)

Gambar 1: Teknik Pembebanan © 2003 Digitized by USU digital library 10

(a)

(b)

Gambar 2: Teknik Pengukuran

Gambar 3: Mikroskop untuk Pemeriksaan retak-retak pada beton © 2003 Digitized by USU digital library 11

III. 3. 2. Uji Merusak

Uji merusak biasanya ditempuh jika pengujian ditempat (in-situ) tidak

mungkin dilakukan atau jika tujuan utama pengujian adalah mengetahui

kapasitas suatu bagian struktur yang nantinya akan dijadikan sebagai acuan

dalam menilai bagian-bagian struktur lainnya yang identik dengan bagian

yang diuji. Pengujian jenis ini biasanya memakan waktu dan biaya yang

besar, terutama untuk pemindahan dan penggantian bagian struktur yang

akan diuji dilaboratorium. Namun, walaupun begitu hasil yang bisa diharapkan

dari pengujian jenis ini tergolong sangat akurat dan informatif. Mengenai

teknik pelaksanaan dalam pengukuran untuk pengujian jenis ini sama dengan

teknik-teknik yang sudah diuraikan sebelumnya.

sBAB - IV

PENUTUP

KESIMPULAN

1. Methode Hammer Test

a. Pengujian jenis ini dilakukan pada pengujian-pengujian setempat dan bersifat

tidak merusak struktur. Dapat digunakan dengan mudah (praktis),

pengukuran dapat dilakukan dengan cepat dengan memperoleh data yang

cukup banyak dan biaya murah.

b. Beton yang diuji haruslah dari jenis dan kondisi yang sama karena hasil

pengujian dipengaruhi oleh kerataan permukaan, kelembaman beton, sifat

dan jenis agregat kasar, drajad kombinasi dan umur beton.

c. Tingkat keandalan rendah, sulit mengkalibrasi hasil pengujian dan sifatnya

hanya memberikan informasi mengenai karakteristik teton pada permukaan

2. Metode Uji Pembebanan.

a. Pengujian dilakukan apabila perhitungan analitis tidak mungkin dilakukan

karena keterbatasan informasi, kinerja struktur sudah menurun, tingkat

keamanan yang rendah dan perubahan fungsi struktur.

b. Pengujian dapat berupa pengujian ditempat dan bagian-bagian struktur yang

penggunaannya tergantung pada situasi, kondisi dan tujuan dilakukannya

pengujian yang bersifat setengah merusak maupun merusak secara

keseluruhan komponen-komponen struktur.

c. Jika terjadi kerusakan yang fatal setelah dilakukan pengujian, struktur tidak

boleh digunakan sama sekali, kalaupun masih digunakan dengan pembatasan

beban-beban yang bekerja atau fungsi struktur dikurangi.

DAFTAR PUSTAKA

BATHE, K.J Numerical Method In Finite Element Aanolisis, Prentic Hall, New York,

1982

Yayasan Dana Normalisasi Indonesia, Peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971

(PBI-71) NI-2 Dep. PU dan Tenaga listrik, Dirjen Cipta karya LPMB.

TIMOSHENKO AND YOUNG, Theon of Elasatificity.

UGURAL, Advance Strength and Appilied Elasticity

0 komentar:

Poskan Komentar